Seiring dengan merebaknya virus Covid-19, masyarakat mulai memperhatikan kebersihan dirinya. Dimulai dari mencuci tangan, hingga menggunakan masker. Hand sanitizer juga menjadi sorotan dan alternatif terpraktis dalam menjaga kebersihan tangan. Terutama bagi masyarakat yang berhubungan dengan fasilitas atau transportasi publik. 

Hand sanitizer digunakan dengan cara menyemprotkan atau menuangkan cairan hand sanitizer ke seluruh permukaan tangan. Cairan hand sanitizer dipercaya dapat menangkal virus dan bakteri penyakit. Namun, apa saja yang terkandung dalam hand sanitizer? Bagaimana tinjauan dari segi kehalalannya?

Ir. Nancy Dewi Yuliana, M.Si, dosen Ilmu Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor sekaligus auditor halal LPPOM MUI, menerangkan bahwa bahan aktif hand sanitizer adalah etanol. Selama bukan dari industri khamr, penggunaan alkohol/etanol diperkenankan atau boleh digunakan untuk pemakaian luar, seperti halnya hand sanitizer.

“Jadi, etanol pada produk hand sanitizer tidak masalah,” ujar Nancy.

Meski begitu, ada yang perlu diperhatikan dalam kandungan hand sanitizer, yakni penggunaan gliserin dan parfum. Gliserin berfungsi sebagai pelembab. Hal ini bermanfaat agar tangan tidak mudah kering saat terkena etanol. 

Gliserin merupakan salah satu bahan turunan lemak. Yang perlu digarisbawahi adalah asal dari lemak tersebut. Apabila berasal dari hewan, maka harus dipastikan lemak berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai syariah.

Lebih lanjut, Nancy menjelaskan bahwa parfum atau fragrance juga termasuk bahan yang kritis. Ada dua jenis fragrance, yakni berasal dari bahan alami dan sintetik. Fragrance alami umumnya berasal dari bahan nabati, bunga misalnya. Pengolahan biasanya dilakukan secara fisik untuk mengambil ekstraknya, tanpa penambahan bahan lain. Melihat dari bahan dan prosesnya, maka bisa dikatakan fragrance alami yang diolah seperti ini termasuk bahan tidak kritis.

“Sedangkan fragrance sintetik lebih kompleks dan dari segi kehalalan pun bisa termasuk kategori bahan kritis. Meski parfumnya misalnya aroma bunga, tapi dari pengalaman audit terkadang ditemukan juga bahan untuk membuat parfum yang merupakan turunan lemak,” terang Nancy.

sumber : https://www.halalmui.org/